Kamis, 11 Agustus 2016

Sistem Kebudayaan Suku Bali

A.   Sistim Kekerabatan Suku Bali
Sistem Kekerabatan keluarga Bali: Sistem garis keturunan dan hubungan kekerabatan orang Bali berpegang kepada prinsip sistem klen-klen (dadia) dan sistem kasta (wangsa). Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali, karena pada saat itulah ia dapat dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat, dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat. Maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan diantara warga se-klen, atau setidak-tidaknya antara orang yang dianggap sederajat dalam kasta. Orang-orang yang masih satu kelas (tunggal kawitan, tunggal dadia dan tunggal sanggah) sama-sama tinggi tingkatannya. Dalam perkawinan klen dan kasta ini yang paling ideal adalah antara pasangan dari anak dua orang laki-laki bersaudara.
Orang-orang se-klen di Bali itu, adalah orang orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama, dan demikian juga dalam kasta, sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas klennya, terjagalah kemungkinan akan ketegangan-keteganagan dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar kasta yang berbeda derajatnya. Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari kasta yang tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat kastanya, karena perkawinan itu akan membawa malu kepada keluarga, serta menjatuhkan gengsi dari seluruh kasta dari anak wanita tersebut.
Masyarakat Bali Hindu memang terbagi ke dalam pelapisan sosial yang dipengaruhi oleh sistem nilai yang tiga, yaitu utama, madya dan nista. Kasta utama atau tertinggi adalah golongan Brahmana, kasta Madya adalah golongan Ksatrya dan kasta nista adalah golongan Waisya. Selain itu masih ada golongan yang dianggap paling rendah atau tidak berkasta yaitu golongan Sudra, sering juga mereka disebut jaba wangsa (tidak berkasta). Dari kekuatan sosial kekerabatannya dapat pula dibedakan atas klen pande, pasek, bugangga dan sebagainya.
Sistem Penamaan Keluarga Bali: Sistem penamaan keluarga Bali didasarkan pada kasta: Brahmana : Ida Bagus : Laki-Laki Ida Ayu : Wanita Ksatria : Anak Agung Waisya : Gusti Bagus : Laki – Laki Gusti Ayu : Wanita Sudra : Wayan : Anak Pertama Made : Anak Kedua Nyoman : Anak Ketiga Ketut : Anak Keempat
Bahasa Bali: Bahasa Bali termasuk keluarga bahasa Indonesia. Dilihat dari sudut perbendaharaan kata dan strukturnya, maka bahasa Bali tak jauh berbeda dari bahasa Indonesia lainnya. Bahasa Bali mengenal juga apa yang disebut "perbendaharaan kata-kata hormat", walaupun tidak sebanyak perbendaharaan dalam bahasa Jawa. Bahasa Bali mengenal 3 tingkatan pemakaian bahasa, yaitu bahasa Alus (Hormat), Lumrah (Madya) dan Bahasa Bali Kasar, berbeda dengan bahasa Bali Aga yang hampir tidak mengenal tingkatan seperti itu. Akan tetapi sekarang bahasa Bali Alus (Hormat) digunakan secara resmi oleh hampir semua golongan dalam pergaulan di daerah Bali sendiri. Bahasanya sendiri terbagi dlam beberapa dialek, yaitu : dialek Buleleng, Karangasem, Klugkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan dan Jembrana.
Sistem Sosial Budaya Masyarakat Bali: Kehidupan sosial budaya masyarakat Bali sehari-hari hampir smuanya dipengaruhi oleh keyakinan mereka kepada agama Hindu Darma yang mereka anut. Oleh karena itu studi tentang masyarakat dan kebudayaan Bali tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sistem religi Hindu. Agama Hindu Darma atau Hindu Jawa yang mereka anut mempercayai Tuhan Yang Maha Esa dalam konsep Tri Murti, yaitu Tuhan yang mempunyai tiga wujud: Brahma (Pencipta), Wisnu (Pelindung) dan Syiwa (Pelebur Segala yang Ada). Semuanya perlu di hormati dengan mengadakan upacara dan sesajian. Mereka juga mengangap penting konsepsi tentang Roh abadi yang disebut Athman, adanya buah setiap perbuatan (Karmapala), kelahiran kembali sang jiwa (purnabawa) dan kebebasan jiwa dari kelahiran kembali (moksa). Dalam menyelenggarakan pemakaman anggota keluarga orang Bali selalu melaksanakan tiga tahapan upacara kematian. Pertama, upacara pembakaran mayat (ngaben), kedua, upacara penyucian (nyekah) dan ketiga, upacara ngelinggihang. Ajaran-ajaran di agama Hindu Darma itu termaktub dalam kitab suci yang disebut Weda.

Pola Perkampungan/ Permukiman Orang Bali: Pertama, pola perkampungan mengelompok padat, pola ini terutama terdapat pada desa-desa di Bali bagian pegunungan. Pola perkampungan di desa-desa ini bersifat memusat dengan kedudukan desa adat amat penting dan sentral dalam berbagai segi kehidupan warga desa tersebut Kedua, pola perkampungan menyebar, pola ini terutama terdapat pada desa-desa di Bali dataran, dimana baik wilayah maupun jumlah warga desa disini jauh lebih luas dan lebih besar dari desa-desa pegunungan. Desa-desa di Bali dataran yang menunjukkan pola menyebar terbagi lagi dalam kesatuan-kesatuan sosial yang lebih kecil yang disebut Banjar. Banjar disini pada hakekatnya adalah juga suatu kesatuan wilayah dan merupakan bagian dari suatu desa dengan memiliki kesatuan wilayah, ikatan wilayah, ikatan pemujaan, serta perasaan cinta dan kebanggaan tersendiri.
Sistem Kemasyarakatan Sistem kemasyarakatan merupakn kesatuan” sosial yg ddasarkn atas ksatuan wilayah/territorial administrasi (perbekelan/kelurahan) yg pd umumnya terpecah lg mjd kesatuan sosial yg lbh kecil yaitu banjar & territorial adat. Banjar mgatur hal” yg bsifat keagamaan,adat & masyarakat lainnya. Dari sistem kemasyarakatan yg ada ini maka warga desa bs masuk mjd dua keanggotaan warga desa/satu yaitu: sistem pemerintahan desa dinas sbg wilayah administratif. Dr kehidupan masyarakat setempat tdpt pula kelompok” adat. Sistem Kemasyarakatan di Bali adalah sbg brkut: Banjar Merupakan bentuk kesatuan” sosial yg ddasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan sosial itu dperkuat oleh ksatuan adat & upacara” keagaman. Didaerah pegunungan, sifat keanggotaan banjar hanya terbatas pd orang yg lahir di wilayah banjar tsb. Sedangkan didaerah datar, sifat keanggotaannya tdk tertutup & terbatas kpd orang” asli yang lahir di banjar itu.
Subak Subak di Bali seolah-olah lepas dr Banjar & mpunyai kepala sendiri. Orang yg mjd warga subak tdk semuanya sama dg orang yg mjd anggota banjar. Warga subak adalah pemilik/para penggarap sawah yg menerima air irigasinya dr bendungan” yg diurus olh suatu subak. Sekaha Dlm khidupan kemasyarakatan di Bali, ada organisasi” yg bgerak dlm lapangan kehidupan yg khusus, ialah sekaha. Organisasi ini bsifat turun-temurun, ti ada pula yg bsifat sementara. Ada sekaha yg fungsinya adalah myelenggarakan hal”/upacara” yg berkenan dg desa, misalnya sekaha baris (perkumpulan tari baris), sekaha teruna-teruni. Sekaha tsb sifatnya permanen, tp ada juga sekaha yg sifatnya sementara, yaitu sekaha yg didirikan bdasarkan atas suatu kebutuhan ttntu, misalnya sekaha memula (perkumpulan menanam), sekaha manyi (perkumpulan menuai), sekaha gong (perkumpulan gamelan)dll.
Gotong - Royong Dalam kehidupan berkomuniti dalam masyarakat Bali dikenal sistem gotong royong (nguopin) yang meliputi lapangan-lapangan aktivitet di sawah (seperti menenem, menyiangi, panen dan sebagainya), sekitar rumah tangga (memperbaiki atap rumah, dinding rumah, menggali sumur dan sebagainaya), dalam perayaan-perayaan atau upacara-upacara yang diadakan oleh suatu keluarga, atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian. nguopin antara individu biasanya dilandasi oleh pengertian bahwa bantuan tenaga yang diberikan wajib dibalas dengan bantuan tenaga juga. kecuali nguopin masih ada acara gotong royong antara sekaha dengan sekaha. Cara serupa ini disebut ngedeng (menarik). Misalnya suatu perkumpulan gamelan ditarik untuk ikut serta dalam menyelenggarakan suatu tarian dalam rangka suatu upacara odalan. bentuk yang terakhir adalah kerja bhakti (ngayah) untuk keprluan agama,masyarakat maupun pemerintah.
B.   Sistim Kepercayaan Suku Bali
 Masyarakat Bali sebagian besar menganut agama Hindu- Bali. Mereka percaya adanya satu   Tuhan dengan konsep Trimurti yang terdiri atas tiga wujud, yaitu:
1)      Brahmana : menciptakan;
2)      Wisnu : yang memelihara;
3)      Siwa : yang merusak.
Selain itu hal-hal yang mereka anggap penting adalah sebagai berikut.
A.    Atman : roh yang abadi.
B.     Karmapala : buah dari setiap perbuatan.
C.     Purnabawa : kelahiran kembali jiwa.
Tempat ibadah agama Hindu disebut pura. Pura memiliki sifat berbeda, sebagai berikut:
1)      Pura Besakih: sifatnya umum untuk semua golongan.
2)      Pura Desa (kayangan tiga): khusus untuk kelompok sosial setempat.
3)      Sanggah: khusus untuk leluhur.
Di Bali terdapat beribu-ribu pura dan sanggah. Masing-masing pura dan sanggah memiliki tanggal perayaan yang berbeda-beda, yaitu sebagai berikut.
1) Tanggalan Hindu–Bali
Tanggalan Hindu–Bali terdiri atas 12 bulan yang lamanya 355 hari. Sistem perhitungan dengan sistem Hindu disebut Syuklapaksa. Tahun baru Saka (Nyepi) jatuh pada tanggal satu bulan kesepuluh.
2) Tanggalan Jawa–Bali
Tanggalan Jawa–Bali terdiri atas 30 wuku. Tiap wuku terdiri atas tujuh hari. Perayaan yang didasarkan atas perhitungan penanggalan Jawa-Bali misalnya hari raya Galungan dan Kuningan. Selain itu juga digunakan untuk upacara-upacara sebagai berikut.
a) Manusia yadnya, adalah upacara siklus hidup masa anak-anak sampai dewasa.
b) Dewa yadnya, adalah upacara pada kuil-kuil umum dan keluarga.
c) Resi yadnya, adalah upacara pentahbisan pendeta (mediksa).
d) Buta yadnya, adalah upacara untuk kala dan buta yaitu roh-roh penunggu
C.   Sistim Ekonomi Suku Bali
Sebagian besar masyarakat Bali memiliki mata pencaharian sebagai petani. Selain padi, pertanian yang lain yaitu palawija, kopi, dan kelapa. Peternakan di Bali juga maju, yaitu ternak babi dan sapi. Selain itu juga dikembangkan peternakan kambing, kerbau, dan kuda.
  1. Perikanan: dikembangkan perikanan darat dan laut, perikanan laut terdapat di pinggir pantai. Para nelayan menggunakan jangkung (perahu penangkap ikan) untuk mencari ikan tongkol, udang, dan cumi-cumi.
  2. Di Bali juga banyak terdapat industri kerajinan, kerajinan yang dibuat meliputi: benda-benda anyaman, kain tenun, pabrik rokok, dan tekstil. Selain itu juga banyak perusahaan yang menjual jasa, seperti biro perjalanan, hotel, rumah makan, taksi, dan toko kesenian. Tempat usaha terbesar terdapat di Gianyar, Denpasar, dan Tabanan.
D.  Sistim Pemerintahan Suku Bali
        Desa-desa di Bali dibuat berdasarkan kesatuan tempat. Desa-desa di daerah pegunungan mempunyai pola perkampungan memusat (banjar) yang dikepalai oleh khan boncor (khong). Selain itu di Bali juga dikenal kuil desa yang disebut kayangan tiga. Kesatuan organisasi lain yaitu subak dan seka. Subak merupakan organisasi irigasi yang mempunyai kepala sendiri. Seka merupakan suatu organisasi yang bergerak dalam lapangan kehidupan khusus. Seka berfungsi menyelenggarakan upacara-upacara desa seperti: seka baris, seka truna, dan seka gong.
E.    Sistim Kesenian Suku Bali
       Kebudayaan kesenian di Bali di golongkan 3 golongan utama yaitu seni rupa misalnya seni lukis, seni patung, seni arsitektur seni pertunjukkan misalnya seni tari, seni sastra, seni drama, seni musik, dan seni audiovisual misalnya seni video dan film
       Seni arsitektur di bali dapat ditemui pada permukaan kayu, baik yang berupa
Peralatan rumah tangga, benda benda seni, rumah, perahu, maupun benda benda pusaka dan peralatan upacara, di bali benda benda seni diukir kemudian di jual untuk keperluan parawisata dan ada pula ukiran yang dibuat di gapura dan pura untuk pemujaan pada nenek moyang atau dewata.
Bangunan bangunan yang terukir pada dinding pada dinding candi jago dapat disaksikan pada pura pura di bali, Namun, penampilan rumah tinggal orang bali  yang sangat berbeda dari penampilan rumah orang jawa, rumah orang bali yang beragama hindu dan terpengaruh oleh majapahit pada umumnya di batasi pekerangan yang didalamnya terdapat beberapa bangunan berpanggung rendah diatas batu persegi empat

Berikut beberapa Seni yang Terdapat Di Bali:
1)     Seni Bangunan
Seni bangunan nampak pada bangunan candi yang banyak terdapat di Bali, seperti Gapura Candi Bentar.
2)     Seni Tari


Tari tradisional Bali antara lain tari sanghyang, tari barong, tari kecak, dan tari gambuh. Tari modern antara lain tari tenun, tari nelayan, tari legong, dan tari janger.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates Welcome To My Blog Site Welcome To My Blog Site Deslyanto Mangallo